PENDEKATAN MULTISENSORIS DENGAN OPTIMALISASI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Memperoleh kesempatan belajar terpadu multisensoris menjadi hal mutlak bagi anak berkebutuhan khusus. Hal ini menjadi tidak jelas manakala proses pembelajaran kemudian diarahkan dengan memberikan pembelajaran anak “normal” yang “disederhanakan atau diturunkan”. Bukan itu esensinya. Ketika kemudian segala bentuk perangkat pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus dipolakan demikian, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan “kebutuhan khusus” mereka.

Menjadi hal menarik ketika sebagian anak-anak berkebutuhan khusus memunculkan keistimewaan, dan hal tersebut dikaitkan sebagai sesuatu yang Tuhan beri untuk mengganti kekurangan. Jika seorang anak mengalami hambatan penglihatan, maka mereka ada yang akan dianugerahi suara yang bagus. Jika seorang anak mengalami hambatan pendengaran, maka ia dianugerahi kelenturan fisik. Contoh lain adalah berkembangnya di sebagian masyarakat pendapat yang mengaitkan autis dengan kecerdasan luar biasa yang tersembunyi. Beberapa asumsi tersebut tidak selamanya keliru, karena sesungguhnya memang anak-anak berkebutuhan khusus itu memang memiliki potensi kecerdasan dan tersembunyi.

Seperti kondisi mereka, proses pembelajaran pada anak-anak istimewa juga memerlukan keistimewaan. Ketika Pemerintah mengembangkan pembelajaran tematik bahkan juga pada anak-anak “non-disabilitas” hingga di satuan pendidikan SMP, maka seharusnya anak-anak istimewa kita juga mendapatkan hak yang sama. Apakah selama ini tidak seperti itu? Disinilah sesungguhnya kunci utama pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Pembelajaran tematik menggabungkan beberapa matapelajaran menjadi satu rangkaian pembelajaran terpadu. Anak akan belajar memahami keterkaitan antarsubstansi yang dipelajari sehingga pembelajaran akan jauh lebih bermakna bagi kehidupan mereka. Pada anak-anak berkebutuhan khusus, pendekatan tematik tidak sesederhana itu. Mereka memerlukan keterpaduan yang tidak sekedar menggabungkan matapelajaran, tetapi keterpaduan multisensoris, melibatkan seluruh potensi sensori yang masih dimiliki. Keterpaduan sensoris sesungguhnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan, namun ironisnya hal yang kemudian dikembangkan di banyak lembaga pendidikan dunia (dan sesungguhnya sudah dimengerti) justru semakin tergeser dengan keterpaduan tematis yang lebih pada keterikatan matapelajaran.

Karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami berbagai hambatan tertentu, bisa satu bisa juga lebih hambatan yang terbentuk dari gangguan fisiknya, membutuhkan eksplorasi multisensoris untuk mereka bisa menangkap beragam input, membentuk pemaknaan komprehensif, kemudian secara utuh akan terbentuk pola-pola konsep. Pendekatan yang tidak mungkin terbentuk hanya melalui baca-tulis, pengulangan, dan “pemaknaan” menurut kacamata guru/tenaga pendidik/orangtua/orang dewasa. Ketika dalam sebuah proses pembelajaran di kelas guru/tenaga pendidik memberikan pemahaman satu arah, maka saat itulah proses pemaknaan mulai terdeviasi. Bukan berarti hal tersebut tidak boleh, sebagai bagian proses pembelajaran hal itu biasa dan bisa dibenarkan, tetapi manakala guru/tenaga pendidik tanpa sadar terbiasa dengan hal itu dan melupakan keterpaduan multisensoris yang sesungguhnya, maka kekeliruan fundamental sedang terbangun dalam proses pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menciptakan proses pembelajaran terpadu multisensoris, antara lain :

  • Menyediakan beraneka media pembelajaran di kelas  (hal yang semakin jarang ditemui di kelas).

Pemanfaatan TIK sudah menjadi idola baru, guru/tenaga pendidik merasa canggih bila mampu menyajikan pembelajaran dengan memanfaatkan media TIK. Di banyak sekolah dapat dilihat semakin sedikit kelas-kelas yang dilengkapi media pembelajaran, masih beruntung jika tergantikan dengan display hasil karya siswa. Seharusnya guru/tenaga pendidik melengkapi setiap proses pembelajaran dengan beragam media. Hal yang lumrah terjadi adalah ketika masih menjadi mahasiswa praktek seorang calon guru/tenaga pendidik akan menyiapkan beragam kreasi media pembelajaran, tetapi ketika sudah menjadi guru/tenaga pendidik hal itu amat jarang dilakukan.

  • Menumbuhkan kreativitas.

Media pembelajaran terlahir melalui proses kreatif. Saat seorang guru/tenaga pendidik berpikir tentang proses pembelajaran seperti apa yang akan dilakukannya di kelas, maka saat itu pulalah proses kreativitas sedang bekerja melahirkan pemikiran/gagasan. Seringkali manusia sendirilah yang kemudian membatasi lahirnya pemikiran/gagasan, menyederhanakan proses kreatif dengan alasan praktis, mudah, murah. Padahal jika kita mau memberikan peluang, maka proses kreatif akan memunculkan ide-ide tak terbayangkan, sesuatu yang “out of the box”.

  • Memanfaatkan satu jenis media untuk beragam tujuan pembelajaran.

Seorang guru/tenaga pendidik yang mengajar anak-anak berkebutuhan khusus harus jeli dan kreatif melihat berbagai kemungkinan pemanfaatan media pembelajaran yang terbatas. Keterbatasan tidak berarti kering atau pupusnya kemungkinan menggunakan media pembelajaran.

  • Mengembangkan daur ulang.

Pengembangan 3R (reduce – reuse – recycle) adalah solusi sederhana untuk menciptakan keberagaman fungsi media pembelajaran. Seorang guru/tenaga pendidik anak-anak berkebutuhan khusus seharusnya memiliki peluang besar untuk bermain-main dengan 3R. Anak pun akan belajar memainkan imajinasinya, satu hal yang seringkali menjadi tembok besar saat keterbatasan dijadikan dalih/alasan.

Hal-hal sederhana diatas mungkin bukan hal baru, tetapi proses pembelajaran yang terlalu kaku dan konvensional telah membentuk stereotip benteng kebiasaan yang nyaris dibangun di kalangan pendidik. Untuk guru/tenaga pendidik anak-anak berkebutuhan khusus, jangan menyalakan sendiri lampu kuning dengan dalih apapun, karena yang hakiki dalam pendidikan bagi anak-anak istimewa itu adalah proses pembelajaran memberikan kesempatan anak memanfaatkan semua bagian dari tubuh yang masih mungkin untuk mengeksplor pengetahuan. Langkah selanjutnya akan mereka lakukan sendiri, tentukan sendiri, dan mereka akan menjadikannya sebagai bagian yang paling dibutuhkan untuk masa depan mereka.(AgoesRakhman_YPACJakarta)

Sumber Foto

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.